![]() |
| Fhot/ist |
BATAM//EXPOSEPERISTIWA – Aktivitas di Pelabuhan Hasim yang berada di kawasan Jembatan 6 Barelang, Kecamatan Galang, Kota Batam, kembali menjadi perhatian publik. Namun, berdasarkan pantauan di lapangan serta keterangan sejumlah sumber, pelabuhan yang dikelola keluarga mendiang Apek Hasim itu disebut bukan lokasi aktivitas penyelundupan sepert isu yang beredar di tengah masyarakat.
![]() |
| Istimewa |
Pelabuhan yang kini dikelola oleh Apeng, ponakan dari Apek Hasim, justru terlihat terbuka untuk umum tanpa kesan tertutup ataupun aktivitas mencurigakan. Kawasan pelabuhan tersebut tidak dipagari seng maupun kawat pembatas, sehingga masyarakat bebas keluar masuk serta menyaksikan langsung aktivitas di dalam area dermaga.
Keberadaan pelabuhan itu pun disebut telah lama menjadi jalur penghubung kebutuhan logistik bagi masyarakat pulau-pulau sekitar. Dermaga kayu yang ada di lokasi digunakan untuk sandar kapal-kapal pengangkut sembako, semen, hingga material kebutuhan pembangunan warga pesisir dan pulau terluar.
“Kalau memang ada aktivitas ilegal, tentu tempatnya tertutup dan dijaga ketat. Di sini justru terbuka, siapa saja bisa masuk melihat aktivitas,” ujar salah seorang warga sekitar kepada media, Senin (08/06/2026).
Sosok Apeng selaku pengelola pelabuhan juga dikenal warga sebagai pribadi sederhana dan mudah bergaul. Pria keturunan Tionghoa berusia sekitar 45 tahun itu disebut tidak pernah menghindar dari masyarakat maupun awak media.
Menurut warga, Apeng hampir setiap hari berada di lokasi pelabuhan, kecuali saat ada urusan pribadi ke kawasan Tembesi, Penuin, atau Pasar Jodoh untuk bertemu rekan-rekannya.
“Orangnya ramah, sederhana, tidak pernah sombong. Kalau dicari biasanya ada di lokasi,” ungkap seorang sumber setempat.
Pantauan di lokasi menunjukkan suasana pelabuhan relatif lengang. Terlihat sejumlah peti bekas ikan berada di tepi dermaga beton, sementara dua kapal kayu tampak bersandar di ujung dermaga tanpa aktivitas bongkar muat.
Di area sebelum pintu masuk pelabuhan, tampak sejumlah kendaraan terparkir. Warga sekitar menyebut lokasi parkir tersebut biasa digunakan masyarakat pulau maupun pengunjung yang hendak memancing di sekitar kawasan Barelang.
“Kadang warga pulau titip kendaraan di sini sebelum menyeberang. Ada juga yang parkir karena memancing,” jelas sumber lainnya.
Secara historis, kawasan tersebut dikenal masyarakat lama sebagai Pelabuhan Sungai Budus, sebelum wilayah Kepulauan Riau dimekarkan menjadi provinsi tersendiri. Pelabuhan itu dulunya menjadi salah satu akses transportasi laut masyarakat sebelum pembangunan penuh Jembatan Barelang.
“Dulu sebelum enam jembatan tersambung seperti sekarang, masyarakat belanja ke Sei Jodoh Batam menggunakan kapal mesin tempel lalu bersandar di sini,” ujar Sandi, warga setempat yang mengetahui sejarah kawasan tersebut.
Ia menjelaskan, sejak proyek penyambungan enam jembatan Barelang selesai sekitar tahun 1996, kawasan tersebut semakin ramai karena akses darat dari Batam menuju pelabuhan menjadi lebih mudah.
Pelabuhan Hasim sendiri berada di wilayah Kelurahan Galang Baru, Kecamatan Galang, Kota Batam. Lokasinya menyuguhkan pemandangan laut dan hamparan hutan mangrove yang masih alami, serta berada di jalur yang mengarah ke wilayah Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau.
Sementara itu, sumber di lingkungan Dinas Perhubungan Kota Batam menyebut pelabuhan tersebut kemungkinan tercatat sebagai pelabuhan pengumpan yang melayani distribusi antarwilayah pesisir.
“Informasinya kemungkinan izin operasionalnya sebagai pelabuhan pengumpan,” ujar salah satu sumber yang e
tidak mau disebutkan namanya.Pelabuhan Hasim di Barelang Disebut Terbuka untuk Umum, Aktivitas Didominasi Distribusi Sembako dan Kebutuhan Warga Pulau (Red )


