KENAPA HARUS TERUS SEKOLAH? KENAPA HARUS TERUS SEKOLAH?

KENAPA HARUS TERUS SEKOLAH?

BATAM//EXPOSEPERISTIWA.COM - Oleh: Jonrius Sinurat, S.H.

Pendidikan bukan hanya tentang mengejar gelar, melainkan memperluas cara berpikir, menemukan jati diri, dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik.

Pernahkah kita bertanya, mengapa harus terus sekolah jika sudah bisa bekerja? Untuk apa mengejar gelar jika tanpa gelar pun seseorang dapat menghasilkan uang? Apakah pendidikan tinggi masih relevan bagi mereka yang sudah berkeluarga, memiliki tanggung jawab ekonomi, atau merasa usianya tidak lagi muda?

Pertanyaan itu wajar. Bagi sebagian orang, sekolah dianggap selesai ketika ijazah terakhir diterima dan pekerjaan sudah didapatkan. Namun, kehidupan terus berubah. Pengalaman kerja penting, tetapi tidak selalu cukup untuk menghadapi persoalan baru. Karena itu, belajar seharusnya tidak berhenti selama masih ada kesempatan untuk berkembang.

Berangkat dari Keterbatasan, Bukan dari Kemewahan

Saya, Jonrius Sinurat, lahir di Balam, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, pada 1985. Saya menyelesaikan pendidikan dasar pada 1999, SMP pada 2002, dan SMK Teknik Mesin Industri di Simpang Kawat, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, pada 2005.

Setelah tamat SMK, saya merantau ke Batam dengan pikiran sederhana: mendapatkan pekerjaan, memperoleh penghasilan, dan membangun kehidupan. Saya tidak pernah membayangkan akan kembali kuliah, menyusun skripsi, meraih gelar Sarjana Hukum, mengikuti pendidikan profesi advokat, hingga melanjutkan ke jenjang magister.

Saya pernah bekerja sebagai buruh kasar, petugas keamanan, tukang ojek, penagih kredit, pekerja proyek, pekerja instalasi listrik, mitra survei riset, hingga credit marketing officer di perusahaan pembiayaan.

Berbagai pekerjaan itu mengajarkan saya menghadapi karakter manusia, memahami kesulitan ekonomi, dan merasakan kerasnya persaingan mencari nafkah. Dari sana saya memahami bahwa bekerja penting, tetapi pengetahuan dan kemampuan tetap perlu dikembangkan karena tantangan masa depan belum tentu sama dengan hari ini.

Ketika Kesempatan Datang, Keberanian Harus Mengikutinya

Pada awal 2017, seorang teman mengajak saya menekuni profesi jurnalis. Saya tidak percaya diri karena tidak memiliki latar belakang jurnalistik. Namun, tuntutan kehidupan membuat saya berani mencoba. Bersama istri dan anak-anak, saya memulai perjalanan sebagai wartawan sebuah tabloid mingguan yang berkantor di Jakarta, dengan tanggung jawab sebagai kepala biro di Batam.

Saya belajar menulis berita, memahami kode etik jurnalistik, mengenali prinsip kerja pers, dan mendalami Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sebagian besar saya pelajari secara otodidak melalui pengalaman, membaca, berdiskusi, dan menerima koreksi.

Kemudian saya mendapat kesempatan bekerja di media daring berskala nasional. Saya belajar dari pemimpin redaksi, memperluas relasi, mengikuti pelatihan, dan memperoleh kepercayaan meliput perkara besar di pengadilan.

Saya menyadari bahwa pengalaman dapat menjadi guru, sementara orang lain dapat menjadi jembatan menuju pengetahuan yang lebih luas. Keberanian memulai harus disertai pengetahuan, disiplin, kemampuan beradaptasi, dan kemauan memperbaiki diri.

Kehilangan Ayah dan Kesadaran untuk Berdiri Sendiri

Pada Juli 2021, ayah saya meninggal dunia setelah bertahun-tahun melawan penyakit. Ia bukan sekadar orang tua, melainkan sumber motivasi dan semangat saya.

Setelah kembali ke Batam dari pemakaman di Balam, saya merenungkan banyak hal. Kehidupan harus terus berjalan. Saya tidak bisa selamanya bergantung pada sosok yang selama ini menjadi sumber kekuatan. Saya harus belajar berdiri sendiri, mengambil keputusan dengan matang, dan bertanggung jawab atas masa depan keluarga.

Pada Agustus 2021, saya membangun portal media daring. Sebulan kemudian, saya mendirikan perusahaan pers untuk menopang pengelolaannya. Saya melengkapi administrasi dan legalitas, membangun sistem kerja, serta mengembangkan jangkauan media hingga Kabupaten Rokan Hilir.

Keputusan itu penuh risiko dan ketidakpastian. Namun, saya belajar bahwa kemandirian bukan berarti mengetahui segalanya, melainkan bersedia terus belajar agar keputusan yang diambil semakin bertanggung jawab.

Rasa Minder yang Berubah Menjadi Motivasi

Seiring berkembangnya media yang saya kelola, semakin banyak orang bergabung, termasuk mereka yang berlatar belakang sarjana dan magister. Saya pernah merasa minder karena hanya lulusan SMK, tetapi harus memimpin dan bekerja bersama orang-orang berpendidikan lebih tinggi.

Saya tidak menganggap pendidikan sebagai ukuran mutlak kemampuan seseorang. Banyak orang yang tidak berkesempatan kuliah, tetapi memiliki keterampilan, pengalaman, integritas, dan kemampuan luar biasa. Namun, saya juga tidak ingin menjadikan keterbatasan pendidikan sebagai alasan untuk berhenti berkembang.

Pada 2022, saya memutuskan melanjutkan pendidikan sarjana Ilmu Hukum di salah satu perguruan tinggi swasta di Batam. Keputusan itu tidak ringan. Saya harus menjalankan tanggung jawab sebagai suami dan ayah, mengelola perusahaan pers, memimpin media, serta mengikuti perkuliahan.

Waktu dan tenaga harus dibagi. Ada tugas kuliah yang diselesaikan di tengah pekerjaan, kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan, dan tanggung jawab profesional yang tetap berjalan. Namun, saya menjalaninya sebagai investasi jangka panjang.

Memasuki semester kedua, saya tidak lagi memandang kuliah sekadar jalan memperoleh ijazah. Saya mulai tertarik memahami hukum, persoalan masyarakat, dan berbagai peristiwa dari sudut pandang akademis. Saya menyadari bahwa belajar bukan hanya tentang nilai, melainkan proses memperbarui diri.

Pada Februari 2026, setelah tujuh semester, saya menyelesaikan pendidikan sarjana melalui sidang skripsi dan memperoleh gelar Sarjana Hukum. Pada April 2026, saya mengikuti wisuda bersama keluarga yang datang dari Balam.

Setelah wisuda, saya berziarah ke makam ayah di Balam. Saya tidak lagi dapat berbagi kabar dengannya, tetapi ingin terus menjalani kehidupan dengan membawa nilai-nilai perjuangannya.

Pendidikan bukan alasan untuk merasa lebih tinggi. Sebaliknya, pendidikan seharusnya membuat seseorang semakin memahami keterbatasan diri dan terbuka belajar dari orang lain.

Tidak Berhenti pada Gelar Sarjana

Setelah menyelesaikan sarjana, saya mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat dan Ujian Profesi Advokat pada 2026, lalu dinyatakan lulus.

Pada September 2026, saya mendaftar ke jenjang Magister Ilmu Hukum di salah satu perguruan tinggi swasta di Medan. Setelah melalui verifikasi berkas dan asesmen, saya diterima dan pada Oktober 2026 kembali menjalani kehidupan akademik sebagai mahasiswa pascasarjana.

Keputusan itu bukan karena kondisi finansial yang selalu lapang. Saya tetap menjalani tanggung jawab keluarga, pekerjaan, dan berbagai kebutuhan hidup dengan sumber daya yang harus diperhitungkan.

Saya tidak menjadikan perjalanan ini sebagai ukuran bagi semua orang. Setiap orang memiliki kondisi, prioritas, kemampuan, dan kesempatan berbeda. Ada yang kuliah setelah tamat sekolah, ada yang bekerja bertahun-tahun terlebih dahulu, dan ada yang kembali belajar setelah menikah serta memiliki anak.

Yang penting bukan siapa yang paling cepat meraih gelar, melainkan apakah kita masih mau memperbaiki diri dan mengambil langkah yang sesuai kemampuan.

Kenapa Harus Terus Sekolah?

Bagi saya, pendidikan perlu diperjuangkan karena beberapa alasan.

Pertama, pendidikan memperluas cara berpikir.

Pengetahuan membantu kita menganalisis masalah, memeriksa fakta, membandingkan pilihan, dan mempertimbangkan akibat sebelum bertindak. Pendidikan formal bukan satu-satunya jalan menuju kebijaksanaan, tetapi dapat memperkuat pengalaman ketika disertai karakter yang baik.

Kedua, pendidikan memperluas kesempatan.

Ijazah tidak menjamin pekerjaan, penghasilan, atau kesuksesan. Namun, kualifikasi tertentu tetap menjadi syarat bagi banyak profesi. Pendidikan juga membantu mengembangkan keterampilan, memperluas jaringan, dan meningkatkan kepercayaan diri. Karena itu, pendidikan dapat dipandang sebagai investasi, bukan jaminan keberhasilan.

Ketiga, pendidikan membantu mengenali diri sendiri.

Melalui membaca, berdiskusi, mengikuti perkuliahan, melakukan penelitian, atau mempelajari keterampilan baru, kita dapat menemukan minat, mengenali kelemahan, dan memahami potensi diri. Pendidikan memberi ruang untuk menguji pemikiran dan menemukan arah.

Keempat, pendidikan melatih tanggung jawab.

Pengetahuan membantu kita menyelesaikan persoalan secara profesional, mengambil keputusan dengan bijak, dan tidak mudah menghakimi atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Gelar tinggi tidak otomatis membuat seseorang bijaksana. Ilmu harus berjalan bersama integritas, empati, disiplin, dan kesediaan menerima kritik.

Kelima, pendidikan menjadi teladan bagi generasi berikutnya.

Anak-anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari tindakan orang tua. Pesan tentang pentingnya belajar akan lebih bermakna ketika mereka melihat orang tuanya membaca, memperbaiki kesalahan, dan terus meningkatkan kualitas diri.

Pendidikan Bukan Hanya Milik Orang Kaya

Biaya sering menjadi alasan orang ragu melanjutkan pendidikan. Pendidikan tinggi memang membutuhkan biaya, waktu, tenaga, dan pengorbanan. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, kuliah sambil memenuhi kebutuhan sehari-hari merupakan tantangan nyata.

Namun, mereka yang belum mampu kuliah tidak boleh dianggap tidak memiliki semangat maju. Bisa jadi mereka sedang berjuang memenuhi kebutuhan keluarga, mengumpulkan biaya, atau mencari jalur pendidikan yang sesuai.

Bagi siapa pun yang masih ingin belajar, carilah informasi tentang perguruan tinggi, beasiswa, bantuan pendidikan, program fleksibel, atau jalur yang memungkinkan bekerja sambil kuliah. Hitung kemampuan finansial, pahami biaya keseluruhan, pertimbangkan waktu, dan bicarakan rencana bersama keluarga.

Jika kuliah belum memungkinkan, belajar tetap dapat dilakukan melalui buku, pelatihan, keterampilan digital, bahasa, atau kursus yang relevan. Pendidikan formal dan pembelajaran sepanjang hayat saling melengkapi.

Jangan memaksakan beban yang tidak sanggup ditanggung, tetapi jangan pula menutup masa depan hanya karena hari ini belum memungkinkan.

Tidak Ada Kata Terlambat untuk Memperbaiki Diri

Jika seseorang yang lahir pada 1985, menamatkan SMK pada 2005, menjalani berbagai pekerjaan, berkeluarga, dan memimpin media masih dapat kembali kuliah, mengapa orang lain harus kehilangan semangat sebelum mencoba?

Perjalanan saya bukan rumus keberhasilan bagi semua orang. Namun, pengalaman ini menunjukkan bahwa usia bukan satu-satunya penentu kemampuan belajar.

Ada yang menyelesaikan kuliah pada usia dua puluhan, tiga puluhan, empat puluhan, atau lebih. Ada pula yang tidak mengejar gelar, tetapi terus memperdalam keterampilan hingga menjadi ahli.

Tidak perlu malu menjadi mahasiswa yang lebih tua atau merasa rendah diri karena baru memulai ketika orang lain telah lebih dahulu selesai. Kita tidak menjalani kehidupan dari garis awal yang sama.

Pertanyaannya adalah: apakah hari ini kita sudah melakukan sesuatu untuk menjadi sedikit lebih baik daripada kemarin?

Jika belum, kita masih dapat memulai. Fokuslah pada langkah yang bisa dilakukan sekarang.

Hidup Ibarat Bertani

Salah satu motto hidup saya adalah: “Hidup ibarat bertani.”

Petani tidak dapat memanen tanaman yang tidak pernah ditanam. Benih harus ditanam, tanah diolah, tanaman dirawat, dan waktu diberikan. Namun, hasil panen juga dipengaruhi cuaca, hama, dan keadaan di luar kendali.

Begitu pula pendidikan. Belajar menanam pengetahuan, latihan merawat kemampuan, dan pengalaman menjadi bagian dari pertumbuhan. Hasilnya mungkin baru terasa bertahun-tahun kemudian, dalam bentuk cara berpikir yang matang, keterampilan yang lebih baik, peluang kerja, atau kemampuan menyelesaikan persoalan.

Tidak semua ilmu langsung menghasilkan uang dan tidak semua gelar langsung mengubah keadaan ekonomi. Namun, ketika kita tidak menanam pengetahuan, kita menutup salah satu kemungkinan untuk bertumbuh.

Karena itu, jadikan belajar bagian dari kehidupan. Rawat pikiran, perbarui pengetahuan, dan perbaiki karakter agar mampu menghadapi perubahan zaman.

Gelar Bukan Tujuan Akhir, Melainkan Tanggung Jawab

Setelah meraih gelar Sarjana Hukum dan melanjutkan pendidikan magister, saya semakin memahami bahwa gelar bukan alasan untuk merasa paling pintar. Semakin banyak yang dipelajari, semakin luas pula pengetahuan yang belum dikuasai.

Pendidikan tinggi bukan sekadar menambahkan huruf di belakang nama, melainkan kesempatan melatih penalaran, memahami persoalan, membangun disiplin berpikir, dan mempertanggungjawabkan pendapat.

Gelar seharusnya mengingatkan bahwa ilmu perlu digunakan secara bertanggung jawab. Orang berpendidikan tidak semestinya merendahkan orang lain atau merasa kebal terhadap kritik. Masyarakat membutuhkan orang yang jujur, peduli, mampu bekerja, mau mendengarkan, dan menggunakan ilmunya untuk kepentingan yang lebih luas.

Untuk Mereka yang Sedang Mencari Jati Diri

Kepada siapa pun yang merasa bingung, tertinggal, atau tidak memiliki kelebihan, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa masa depan tidak memiliki harapan.

Mungkin pekerjaan belum sesuai, penghasilan masih terbatas, atau pernah gagal dalam pendidikan. Namun, keadaan hari ini tidak sepenuhnya menentukan siapa diri kita dan apa yang masih dapat dicapai.

Mulailah dengan bertanya: apa yang ingin dipelajari, kemampuan apa yang perlu ditingkatkan, dan perubahan apa yang realistis dilakukan dalam enam bulan atau satu tahun ke depan?

Tidak harus mengambil keputusan besar. Bacalah satu buku, ikuti pelatihan, pelajari keterampilan, atau cari informasi tentang pendidikan yang ingin ditempuh.

Jangan malu bertanya atau belajar dari orang yang lebih muda. Mengakui bahwa diri masih perlu belajar justru membuka ruang bagi pertumbuhan.

Perubahan besar sering dimulai dari keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Penutup: Teruslah Menanam, Meski Panen Belum Terlihat

Saya tidak menganggap perjalanan pendidikan sebagai kisah paling hebat. Masih banyak orang yang perjuangannya lebih berat, dan perjalanan saya pun belum selesai.

Namun, melalui perjalanan dari lulusan SMK, pekerja di berbagai bidang, jurnalis, pengelola media, mahasiswa sarjana, hingga mahasiswa magister, saya ingin menyampaikan: jangan berhenti mengembangkan diri hanya karena keadaan hari ini belum sesuai harapan.

Bagi generasi muda, manfaatkan kesempatan belajar. Bagi para pekerja, jangan menganggap pekerjaan hari ini sebagai batas kemampuan selamanya. Bagi orang tua, dukung pendidikan anak dan tunjukkan teladan dengan terus memperbaiki diri.

Bagi mereka yang berasal dari keluarga sederhana, jangan merasa pendidikan hanya milik orang berkecukupan. Kenali kemampuan, cari kesempatan yang realistis, dan susun langkah dengan matang.

Bagi siapa pun yang merasa terlambat, ingatlah bahwa setiap orang memiliki waktu dan perjalanan berbeda. Selama masih ada kesempatan belajar, masih ada ruang untuk bertumbuh.

Pendidikan tidak menjamin kehidupan sempurna, tetapi dapat membantu kita memahami kehidupan, mengambil keputusan dengan matang, dan memberi manfaat kepada sesama.

Saya percaya Tuhan memberi manusia kesempatan untuk terus bertumbuh. Keyakinan itu harus disertai usaha, doa, perhitungan kemampuan, dan tanggung jawab.

Teruslah belajar. Lanjutkan pendidikan jika memungkinkan. Tingkatkan keterampilan, perluas wawasan, bangun relasi yang sehat, dan perbaiki karakter.

Tidak perlu menunggu kaya untuk mulai belajar, sempurna untuk mencoba, atau diakui orang lain untuk mengembangkan potensi.

Hidup ibarat bertani. Tanamlah ilmu hari ini, rawatlah dengan ketekunan, dan biarkan waktu menjadi bagian dari proses pertumbuhan. Hasilnya mungkin tidak selalu sesuai harapan, tetapi kita tidak akan pernah mengetahui kemungkinan yang dapat tumbuh jika tidak pernah mulai menanam.

Salam literasi.

Hidup pelajar! Hidup mahasiswa!

Jadilah generasi yang tidak hanya mengejar gelar, tetapi juga memperkaya ilmu, membangun karakter, dan memberikan manfaat bagi kehidupan orang banyak.

Jonrius Sinurat, S.H.
Jurnalis | Pemimpin Umum Media | Mahasiswa Magister Ilmu Hukum
 (Red)
Lebih baru Lebih lama