Pemotongan Bukit di Kec Nongsa Dibiarkan? Alam Rusak, Warga Jadi Korban Debu dan Lumpur. Pemotongan Bukit di Kec Nongsa Dibiarkan? Alam Rusak, Warga Jadi Korban Debu dan Lumpur.

Pemotongan Bukit di Kec Nongsa Dibiarkan? Alam Rusak, Warga Jadi Korban Debu dan Lumpur.

 

Aktifitas illegal

BATAM//EXPOSEPERISTIWA – Aktivitas pemotongan bukit di wilayah TPA Punggur, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, terus berlangsung tanpa ada tindakan tegas dari aparat maupun instansi terkait. Warga sekitar mengeluhkan kondisi jalan yang kini kotor, berdebu, dan berlumpur akibat aktivitas alat berat di lokasi tersebut.

Perusak lingkungan

Kegiatan yang dilakukan oleh sejumlah alat berat ini diduga tidak memiliki izin resmi. Dari pantauan di lapangan, awalnya hanya terdapat satu unit ekskavator yang beroperasi, namun kini jumlahnya bertambah menjadi tiga. Warga menilai hal itu menunjukkan intensitas pengerukan yang semakin meningkat tanpa pengawasan pihak berwenang.


> “Kami sebagai masyarakat sekitar sangat terganggu. Jalan jadi becek saat hujan, debu berterbangan saat panas. Belum lagi risiko longsor dan banjir kalau bukit terus digali,” ujar salah satu warga dengan nada kesal saat ditemui awak media, Rabu (12/11/2025).


Menurut informasi yang dihimpun, tanah hasil pemotongan bukit tersebut diduga dijual ke sebuah perusahaan di kawasan Tanjung Uncang untuk dijadikan bahan timbunan. Dugaan praktik jual beli tanah ini semakin memperkeruh situasi, mengingat kerusakan lingkungan yang ditimbulkan justru dibiarkan begitu saja.


Warga juga menyoroti sikap diam dari dinas terkait maupun aparat penegak hukum, khususnya di wilayah hukum Polsek Nongsa, yang seolah menutup mata terhadap kegiatan yang berpotensi melanggar hukum ini.


Selain mencemari udara dengan debu tebal, aktivitas tersebut juga berdampak buruk pada kualitas lingkungan hidup di sekitar lokasi. Air hujan yang turun membawa lumpur ke jalan raya dan pemukiman warga, menimbulkan genangan dan licin yang membahayakan pengguna jalan.


> “Dulu bukit ini indah dipandang, banyak pohon dan angin sejuk. Sekarang semua hancur. Yang ada cuma debu, lumpur, dan suara alat berat siang malam,” keluh warga lainnya.


Pakar lingkungan menilai, kegiatan pemotongan bukit tanpa kajian AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) dapat menimbulkan risiko besar seperti longsor, erosi, hingga hilangnya habitat flora dan fauna. Jika dibiarkan terus, kawasan Nongsa berpotensi menghadapi bencana ekologis di masa depan.


Masyarakat berharap pemerintah Kota Batam segera turun tangan melakukan peninjauan dan penertiban terhadap aktivitas yang merusak lingkungan tersebut sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas dan merugikan warga.( Yos )

Lebih baru Lebih lama